[Studium Generale : Infrastruktur Untuk Siapa?]

Share:

Oleh :
📝 Dept. Sospol BEM FT UNJ




BEM FT UNJ, Jakarta – Senin kemarin (26/3) telah dilaksanakan Studium Generale bertemakan “Infrastruktur Untuk Siapa?” yang diselenggarakan oleh Departemen Sosial Politik BEM FT UNJ. Acara ini bertempat di IDB 2 lantai 10 Gedung Dewi Sartika, Kampus A Universitas Negeri Jakarta.

Acara dibuka pada pukul 16.15 oleh Muhammad Rayhan Tarmizi selaku MC, lalu dilanjutkan pembacaan ayat suci Al Qur’an oleh Naufal Dzakwan. Kemudian dilanjut dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Totalitas Perjuangan yang dipimpin oleh saudari Muthia Ramadhanti.

Pemateri Studium Generale kali ini diambil dari dua persfektif berbeda yakni teknis dan ideologi. Permateri pertama mengambil sudut pandang teknis diwakili oleh Purjoko Yulianto selaku mahasiswa Teknik Sipil UNJ angkatan 2013. Dalam penjabarannya, Purjoko memberi tahu apa itu infrastruktur, bagaimana perencanaannya & pelaksanaannya, serta sedikit evaluasi.

Purjoko menjelaskan bahwa dari segi perencanaan yang telah disusun begitu besar dalam RPJP dan RPJMN, dalam implementasinya yang sudah berjalan dari 2016-2017, secara kualitas infrastruktur kita masih di bawah dibandingkan negara-negara Asia tenggara lainnya bahkan mengalami penurunan kualitas dibanding tahun 2014.

Dari masa ke masa, kuantitas pembangunan jalan tol di masa pemerintahan pak Jokowi mayoritas kepemilikan proyeknya dipegang oleh swasta. Lain halnya dengan kepemimpinan sebelumnya dari masa pak Suharto hingga SBY yang kepemilikan proyeknya dipegang oleh perusahaan Jasa Marga yaitu salah satu perusahaan BUMN. Salah satu hambatan terbesar pembangunan adalah kesepakatan lahan dan ganti rugi yang bermasalah.

Purjoko memaparkan target pembangunan jalan tol oleh pemerintah dari tahun 2015-2019 yaitu :
▶2015 sepanjang 132km
▶2016 sepanjang 130km
▶2017 sepanjang 194km
▶2018 ini sepanjang 347km
▶2019 kelak sepanjang 247km

Lalu Purjoko menekankan di penghujung tahun 2017 - awal 2018 sudah banyak terjadi insiden kecelakaan kerja, apalagi di tahun 2018 dimana target pembangunan pemerintah jauh lebih panjang dari tahun 2017. Purjoko sebagai mahasiswa teknik sipil cukup menyesal akan tindakan pemerintah yang seolah baru serius memoratorium setelah terjadi 14 kali kecelakaan kerja, "insiden ini sudah terjadi berulang kali dan sudah banyak korban jatuh. Tidak hanya memakan korban fisik bahkan nyawa, kemudian pemerintah baru melakukan keseriusan lebih dalam dan baru melakukan penyidakan ke lapangan", begitu ungkapnya.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyebutkan 5 penyebab utama timbulnya kecelakaan kerja, di antaranya :
  1. Kelalaian manusia (human error).
  2. Pada 2017, baru sekitar 150 ribu tenaga ahli yang tersertifikasi di semua level, baik perencana, pengawas maupun pelaksana proyek. Idealnya, jumlah tenaga ahli tersebut sekitar 500 ribu-750 ribu orang.
  3. Mutu material konstruksi belum memenuhi standar
  4. Banyak peralatan konstruksi yang tidak tersertifikasi
  5. Metode pelaksanaan konstruksi di lapangan, terutama terkait program keselamatan dan kesehatan kerja (K3)
  6. Efisiensi anggaran

Infrastruktur untuk apa? 

Kita tidak bisa bersikap naif atau menafikan bahwa infrastruktur hanya untuk dinikmati segelintir kalangan saja. Karena sejatinya infrastruktur memang harus dibangun sebagai bentuk mewujudkan kesejahteraan rakyat, menimbulkan dampak ekonomi, juga menciptakan konektivitas dan persatuan.

Tapi apakah saya sepakat 100% bahwa infrastruktur yang hari ini di bangun pemerintah bernilai tinggi dan bermanfaat bagi masyarakat ?

  1. Jangan menjadikan infrastruktur sebagai beban hutang kepada masyarakat.
  2. Jangan menjadikan infrastruktur dinikmati pelaku pasar asing. Infrastruktur harus menjadi ajang bagi SDM Indonesia utk memiliki daya saing.
  3. Jangan lagi menjadikan masyarakat sebagai korban atas kelalaian dan kecelakaan kerja. Bahkan sampai kehilangan nyawa.

Sebagaimana UU No.18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi, bahwa keamanan dan keselamatan menjadi salah satu asas dibentuknya UU tersebut dari 10 asas yang ada.

Sebagaimana Peraturan Menteri PU Nomor 5 Tahun 2014 tentang Pedoman SMK3 Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum yang mewajibkan penyelenggara pekerjaan konstruksi memenuhi syarat-syarat tentang keamanan, keselamatan, dan kesehatan kerja pada tempat kegiatan konstruksi.

Harapan: International experience
Belajar dari negara lain, contohnya di Seoul tol dirobohkan dan di ganti dengan aliran sungai, diganti dengan taman-taman kota yang membentang, dimana masyarakat bisa berinteraksi di dalamnya, bukan hanya sebagai sarana transportasi.

Di Guangzhou, yang hari ini mewarnai kehidupan mereka adalah mereka bisa menikmati infrastruktur yang ramah dan transportasi yang konektivitasnya bagus. Sedangkan di negara kita infrastrukturnya masih fokus pada sisi yang lain.

Setelah penjabaran dari sudut pandang teknis, dilanjutkan oleh penjabaran dari sudut pandang ideologi yang disampaikan oleh Salamuddin Daeng yang berasal dari AEPI (Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia). Dalam penjabarannya, Salamuddin Daeng menjelaskan pembangunan yang marak sekali di Indonesia saat ini jalan ceritanya seperti apa dan landasan ideologinya untuk apa. Suatu bangunan itu ditujukan untuk kemanusiaan atau untuk eksploitasi?

Salamuddin Daeng mengatakan bahwa ada 3 hal besar yang akan terjadi dunia ini; 
Yang pertama, dunia sedang mengalami krisis yang disebut krisis overproduction. Dimana seluruh kebutuhan kehidupan ini sudah melimpah ruah. Krisis overproduction itu terjadi saat kapitalisme tamat karena tidak bisa lagi tumbuh, karena sudah tidak tau menghasilkan apalagi. Krisis overproduction ini sangat berbahaya bagi umat manusia.

Yang kedua, yaitu terjadi undercomsumption. Undercomsumption ditunjukkan oleh tingkat kemiskinan global yang semakin besar. Terjadi ketimpangan yang semakin tinggi dimana orang kaya jumlahnya makin sedikit, namun kekayaanya semakin besar.

Yang ketiga, yaitu bubble finance dimana terjadi kondisi yang biasa kapitalisme/pemerintah sebut unbalance/ketidakseimbangan. Pak Salamuddin Daeng mengatakan krisis ini tidak akan mungkin selesai. Tidak hanya Indonesia, seluruh dunia ini sedang mengalami hutang yang besar. Hutang didistribusikan kepada negara, juga kepada perusahaan BUMN dan swasta.

Kepada siapa mereka berhutang?
Yaitu kepada pemilik otoritas keuangan : Bank Central.

Pembangunan infrastruktur secara global tak peduli dengan masyarakat butuh atau tidak, yang penting ada negara mau berhutang, kasih hutang, lalu bangun infrastruktur.

Tujuannya apa ?
Tujuan : mereka yang membangun bangunan, hanya untuk bermain-main. Pasar keuangan hanya sebuah permainan.

Sebetulnya dunia ini sedang menunggu fase terakhir, yaitu fase keruntuhan. Salamuddin Daeng juga memprediksi, "dalam akhir tahun 2018 dan awal 2019 nanti krisis China akan tampak. Jika pasar keuangan China sampai jatuh, jangankan serpihannya, debunya saja bisa bikin kita mati."

Pak salamuddin juga menambahkan, berbicara infrastruktur ini memang berbicara akhir zaman. Dimana orang bangun sesuatu dengan landasan bukan kemanusiaan, melainkan permainan. Ini merupakan fenomena akhir zaman. Ketika sumber daya alam digali dengan main-main. Dan bisa kita lihat pembangunan infrastruktur di Indonesia landasannya adalah permainan pasar keuangan, tidak lebih tidak bukan, bukan untuk kemanusiaan.

Setelah penjabaran dari bapak Salamuddin Daeng, maka ditutuplah diskusi pada Studium Generale kali ini secara simbolis dengan pemberian kenang-kenangan kepada kedua pembicara. Pada pukul 18.05 WIB acara secara resmi ditutup oleh MC.

Tidak ada komentar

Silakan Beri Komentar dengan kalimat yang santun