RILIS DISKUSI ONLINE FORUM PEREMPUAN FT “HARI KARTINI = HARI FEMINISME ?”

Share:

Dalam rangka menyambut Hari Kartini, Forum Perempuan FT UNJ mengadakan diskusi online bertemakan “Hari Kartini = Hari Feminisme ?”. Diskusi online ini diadakan pada hari Kamis, 19 April 2018 di grup WhatsApp. Forum Perempuan FT UNJ mengundang Ibu Ellita Permata Widjayanti, MA. sebagai narasumber. Diskusi ini berlangsung mulai pukul 20.00 sampai 22.15 wib.
Ibu Ellita memulai diskusi dengan memaparkan tulisan beliau mengenai feminisme :
"Saya tidak tahu kenapa saya harus menyayangi anak saya, padahal dia telah menyiksa saya selama 9 bulan. Kalian harus tahu bahwa rasa sayang pada anak itu adalah konstruksi budaya pada perempuan, bahwa dia harus menyayangi dan merawat anaknya hanya karena dia seorang perempuan. "

Masih terngiang di telinga saya kalimat-kalimat yang dilontarkan oleh dosen saya saat S1 yang seorang feminis abis. Itu hanya sebagian dari kalimat-kalimat kontroversial yang dia sampaikan di kelas. Saya selalu mengernyitkan dahi setiap kali ada ketidaksetujuan dalam hati kecil saya yang tidak mampu saya ungkapkan lewat lisan karena keterbatasan ilmu saya. Sejak saat itu saya terus belajar bagaimana hakikat menjadi seorang perempuan.

Perempuan dalam sejarahnya selalu dipandang sebagai makhluk kelas dua, kaum marginal, kaum subordinat di bawah kuasa patriarki yang tidak memiliki hak setara dengan laki-laki dalam pendidikan, ekonomi, sosial dan politik. Hal ini yang kemudian memicu perjuangan perempuan sejak abad 18 untuk membebaskan dan menyetarakan dirinya dengan laki-laki dalam berbagai bidang.

Di Indonesia, perjuangan hak perempuan dimulai pada abad 19 dan diawali oleh Kartini. Ia memperjuangkan hak perempuan untuk memeroleh pendidikan yang setara dengan laki-laki. Ia ingin agar perempuan Indonesia dapat mengakses ilmu, menjadi cerdas dan dapat ikut membangun masyarakat yang baik. Ia tidak ingin perempuan hanya dipingit di rumah atau menjadi budak. Perjuangannya kemudian diistilahkan dengan 'emansipasi wanita', sebuah istilah yang mengacu pada pembebasan perempuan dari perbudakan dan persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan bermasyarakat (KBBI). Melalui jasa Kartini lah hingga hari ini perempuan Indonesia mendapatkan akses seluas-luasnya pada pendidikan. Perjuangan emansipasi ini bukanlah perjuangan feminisme yang di berbagai belahan dunia sudah sedemikian berkembang dalam berbagai gelombang dan aliran,  dari feminisme liberal, marxis,  hingga radikal.

Feminisme merupakan gerakan wanita yg menuntut persamaan hak sepenuhnya antara laki-laki dan perempuan (KBBI). Gerakan ini menuntut posisi perempuan yang selalu dimarginalkan. Menurut mereka, perempuan hidup dalam kuasa patriarki, tidak hanya dalam tindakan, namun juga dalam diksi. Untuk perempuan, kata yang disematkan pada mereka berbentuk pasif (di-) seperti 'dimuliakan',  'disayangi', 'dilindungi', 'dicintai',  'dipingit', 'diizinkan',  dan 'di-' lainnya yg menunjukkan posisi mereka sebagai kaum pasif subordinat. Bahkan kaum feminis memprotes kata history karena penggunaan suku kata his yang mengacu pada laki-laki dan dianggap menafikkan perempuan (her)  dalam sejarah.

Gerakan feminisme yang terus berkembang menuntut kesetaraan dalam berbagai aspek yang lebih 'gila' lagi dan semakin berani menabrak norma-norma humanisme yang ada. Menjadi lesbian, mengumbar payudara,  menceritakan vagina dan seksualitas di berbagai media dll. dinisbatkan sebagai bentuk kebebasan dan kesetaraan.  Atas dasar slogan 'tubuhku otoritasku' menjadikan mereka semakin permisif untuk melakukan apa saja pada tubuh mereka.  Jika seorang istri menolak diajak bercinta oleh suaminya, itu sah. Jika suami memaksa, mereka dapat melaporkan ke polisi dengan delik perkosaan. Jika istri harus minta izin kemana-kemana pada suaminya,  harus taat padanya, itulah bentuk marginalisasi.  Maka banyak dari mereka memilih tidak menikah, menikah dengan laki-laki pro feminis, atau menjadi lesbian sekalian.

Itulah mengapa agama  selalu menjadi bulan-bulanan kaum ini, karena mereka menganggap perempuan dinomor duakan dalam agama. Perempuan 'terpenjara' dalam 'ketaatan' pada suami dan pada Tuhan. Dalam Islam, contohnya,  mereka menganggap perempuan tidak berdaya karena harus taat pada suaminya, harus berhijab, harus mengurus anak-anak, warisannya sedikit,  ketika menjadi saksi 1:2 dengan laki-laki, dan sederet aturan lain yang dianggap sebagai siksaan bagi perempuan.
Ada kodrat yang dinafikkan di sini. Laki-laki dan perempuan diciptakan BERBEDA, tidak pernah sama. Perempuan diberikan rahim untuk ia memiliki anak,  sedangkan laki-laki tidak.  Laki-laki berkewajiban dunia akhirat pada perempuan-perempuan di bawah naungannya (ibu, istri, anak,  adik,  dll). Oleh karena itu modal yang diberikan Pencipta juga berbeda. Karena perempuan dikodratkan sebagai ibu, maka ia diberi modal sifat kasih dan sayang, lembut, dan berbagai atribut seorang ibu padanya. Jika atribut-atribut itu tidak ada pada seorang ibu,  salahkan konstruksi budayanya! Seekor ibu singa di Afrika sj rela mencabik-cabik dagingnya sendiri untuk dimakan anak-anaknya pada musim sulit.

Karena laki-laki dikodratkan sebagai leader yg menafkahi keluarga, maka ia diberi modal tegas, kesatria, berani, kuat, dll. Jika atribut ini tidak tampak padanya, lagi-lagi salahkan konstruksi budayanya!
Biarlah laki-laki dan perempuan hidup sesuai kodratnya agar mereka bahagia dan tidak kebingungan dengan identitas mereka.

Laki-laki manapun tidak menyukai perempuan yang otoriter dan dominan, sebagaimana perempuan tidak menyukai laki-laki yang lembek dan baperan. Maka, jangan posisikan mereka terus menerus dalam oposisi biner, tapi biarkan mereka berdampingan dalam posisi komplementer. Perempuan dan laki-laki berhak setara dalam berbagai aspek dalam kehidupan bermasyarakat, sebagaimana mereka setara di hadapan Allah. Namun, kewajiban masing-masing harus dipahami dengan baik, dan tidak ada cara terbaik selain belajar agama dengan baik dan seutuhnya. Laki-laki terbaik adalah yang terbaik perilakunya pada perempuan (istrinya, dan perempuan terbaik adalah yang taqwa pada TuhanNya. Dan salah satu bentuk taqwanya adalah ketaatan pada suaminya. Jika ini diamalkan dengan baik, maka kehidupan akan sempurna dijalani: saling melengkapi dan membahagiakan. Bukankah itu yang kita idamkan.

Tanyakan pada kaum feminis, apakah mereka bahagia dengan melawan kodratnya.
Ibu saya adalah seorang doktor,  namun setiap pagi ia setia menjerang air untuk keluarga, tidak canggung membersihkan kandang ayam,  membersihkan rumah, mendampingi anak-anak belajar dan selalu memasak makanan terenak di dunia. Setelah itu dia akan kembali mengajar, mengisi seminar dan berkutat dengan laptopnya. Bahagia itu saya lihat di matanya, ketika ia menjadi perempuan yang berdikari,  mandiri, dan sukses membangun keluarganya tanpa harus bertanya kenapa dia harus mencintai anak-anaknya yang 'menyiksanya' selama 9 bulan dan terus 'menyiksanya' dengan rengekan-rengekan di setiap waktunya.

*   Sesi Tanya-Jawab
1.       Nisa_UNJ_sebenarnya apakah kartini bisa dikatakan sebagai pelopor feminisme?
Jawaban :
Pelopor emansipasi,  iya. Tapi bukan feminisme. Kita mengacu definisi emansipasi dan feminisme sesuai KBBI di atas ya. Menurut saya, lebih tepat menyematkan Kartini sebagai tokoh emansipasi, bukan feminisme. Karena feminisme memiliki makna yang jauh lebih luas dari sekedar penyetaraan hak perempuan dalam pendidikan.

2.      Dinda_UNJ_masyaAllah suka dengan tulisannya, membuka mata kita bahwa perempuan itu sudah mulia sesuai dengan kodratnya. Tapi banyak yang beranggapan bahwa perempuan itu harus bisa mandiri, tanpa laki-laki pun ia bisa menghidupi kebutuhannya dengan bekerja. Menurut mba Ellita, bagaimana dengan pendapat seperti itu ? Apakah termasuk pada feminism ?
Jawaban :
Perempuan itu yang pasti dia harus memiliki keterampilan dan ilmu agar ia bisa menjadi istri dan ibu terbaik bagi keluarganya.
Dengan keterampilan dan ilmu itu, ia juga bisa berkontribusi (dalam bentuk bekerja).  Maka, wanita yang bekerja ini harus punya pemahaman bahwa bekerjanya ini untuk berkontribusi dalam masyarakat. Gaji adalah ekornya,  meski sah-sah saja untuk mencari pekerjaan dengan gaji terbaik. Bekerjanya ini pun harus memperhatikan aspek-aspek agama yang tidak boleh dilanggar.
Jika ia sudah berkeluarga dan harus membantu suaminya, maka itu menjadi ibadah baginya. Kewajiban mencari nafkah tetap pada suaminya. Maka bekerjanya jangan diniatkan untuk mencari uang, tapi untuk beribadah saja dan berkontribusi bagi masyarakatnya.
Dalam budaya Jawa, perempuan sangat dituntut untuk bisa berdikari, dengan alasan sederhana: jika ada apa-apa dengan suaminya, ia tetap bisa menopang keluarganya. Dan menurut saya itu juga baik.
Oleh karena itu, perempuan harus terampil dan terdidik.
Jadikan anak-anak kita terlahir dari ibunya yang terdidik (dalam ilmu dunia dan akhirat), sehingga mereka dididik oleh ibu yang cerdas dan beriman.

3.      Tia lutfiah_PVT Elko_2016_Saya mau bertanya, bagaimana sikap kita menghadapi gerakan gerakan feminisme yang terus berkembang dengan menuntut kesetaraan yang semakin 'gila'?
Jawaban :
1. Kita harus belajar bagaimana perempuan ditempatkan dalam agama. Kuatkan pemahaman kita tentang seluk beluk perempuan di dalamnya. Bagi yang muslim, pahamkan diri mengapa warisan perempuan lebih sedikit dari laki-laki, mengapa kesaksian  laki-laki:perempuan 1:2, apa arti ketaatan pada suami, mengapa hak cerai ada di suami, dll. Pemahaman ini akan menguatkan diri kita dan orang-orang di sekitar kita, sehingga kita tidak goyah dengan dalil-dalil feminisme yang semakin intensif digencarkan.
2. Pahami cara berfikir feminisme, konfrontasi dengan pemahaman kita. Kadang mengkonfrontir pemikiran mereka tidak perlu dengan dalil agama, cukup dikonfrontir dengan hak dasar sebagai manusia. Contoh, perempuan sebagai lesbi itu hak menurut mereka, tapi ada hak humanis (sebagai manusia)  yang dilanggar tidak?  Ada, mereka tidak berbuat seperti seharusnya manusia.
3. Baca banyak buku, cerdaskan diri, supaya tidak mati kutu saat diskusi dengan feminis.
4. Banyak bergaul dengan orang-orang salih.

4.      Rai_UNJ_Menurut mba elita,  feminisme ini hanya akan booming sesaat saja atau akan berlanjut kedepannya dan terus menerus? Jika akan berlanjut terus, apakah ada cara untuk menghentikannya untuk generasi yang lebih baik di masa yg akan datang. Atau kita cukup menjaga keluarga atau orang" disekitar kita tanpa mencampuri mereka diluar sana yang sudah sangat setuju dengan feminism. Terimakasih.
Jawaban :
Feminisme itu sebuah paham, sebuah ideologi. Ideologi itu sulit musnah meski organisasinya dimusnahkan. Dengan perkembangan teknologi, ideologi apapun sulit dibendung. Feminisme dan LGBT semakin berkembang karena mereka didanai untuk melakukannya: menyebarkan ideologi dan mengembangkannya.
Di sini ada yang ikut acara Feminisme 96 (angkanya lupa nih 90 berapa gitu)  ngga di Dewi Sartika UNJ beberapa waktu lalu?
Saya ikut di situ dan menyimak diskusinya.
Acara serupa diadakan di kampus-kampus lain dan didanai oleh kedubes Canada (note, bagaimana pemerintah canada memperlakukan LGBT di negaranya).
Yang masih bisa diajak diskusi sehat, ajaklah diskusi. Tapi kalau yang ngajak berdebat, tinggalkan. Tugas kita terus kuatkan diri, cerdaskan diri, salihkan diri, jalin komunikasi yang baik dengan keluarga untuk pencerdasan, dan cetak generasi mendatang yang juga cerdas dan beriman.
Salah satu promosi mereka adalah gerakan "anti kekerasan perempuan dalam pacaran"
(jadi nanya kan,  ngapain juga pacaran?)
Setuju bahwa perempuan harus dilindungi, tapi perempuan juga harus bisa melindungi dirinya dengan ilmu dan pemahaman yang baik, sehingga ia juga baik dalam memilih pasangan, baik dalam memanajemen masalah dalam keluarganya, dsb.

5.      Jihan_UNJ_Anggap saja di lingkungan perkuliahan dan rumah ada beberapa teman-teman bahkan saudara yang mereka menyetujui ajaran feminism ini... nah bagaimana cara kita untuk dapat merangkul teman-teman bahkan saudara-saudara kita agar terhindar dari ajaran feminis ini?
Jawaban :
Ajak diskusi. Jangan langsung dikonfrontir keras. Bilang saja pelan-pelan misal, "saya setuju sama beberapa pemikiran feminisme kaya persamaan hak laki-laki dan perempuan dalam pendidikan, hukum, ekonomi dan politik. Tapi kok lama-lama ini feminis kebablasan ya... Bebas berekspresi sebebas-bebasnya atas nama seni lah atau apa lah.. Emang gitu ya? "
Nah, lanjut deh..
Feminis ini bagusnya karena perjuangan mereka atas hak-hak perempuan yang ditindas, mereka mengadvokasi korban kekerasan dalam rumah tangga, dll.. Tapi kebablasannya itu kadang yang keblinger melawan kodrat.
Mereka membela LGBT atas dasar hak asasi manusia, karena menurut mereka jenis kelamin tidak sama dengan gender. Jenis kelamin laki-laki kalau kecenderungannya jadi perempuan ya sah-sah saja, pun sebaliknya. Jadi anak-anak itu jangan dikonstruk gendernya,  biarkan saja dia memilih gender feminin atau maskulin.
Bedakan:
Sex = jenis kelamin, genital
Gender= feminin atau maskulin
Di Amerika kalau mau daftar kuliah di beberapa kampus, formulirnya sudah ada beberapa pilihan sex:
Male, female, transgender male to female, female to male.

6.      Aisyah_PNJ_bagaimana dengan pemahaman teman2 diluar sana yang merasa bahwa tidak semua beragama islam jadi gerakan feminisme bebas dilakukan. Tidak semua harus berpatokan pada ajaran islam, seperti tubuhku adalah otoritasku.
Jawaban :
Ok, bagi yang non muslim,  tidak perlu berpatokan pada ajaran Islam. Tapi pahami apa maksudnya 'tubuhku otoritasku'? 
Apakah sekedar bebas mau jadi apa saja sesuai yang kuinginkan?  Atau bebas memilih disentuh atau tidak oleh laki2?
Gunakan nilai-nilai humanis dalam menilai. Pelajari feminis dengan baik, aliran-alirannya, paham-pahamnya, dll dan silakan dinilai kembali apakah feminisme layak untuk dilakukan.
Feminis radikal:
Perempuan boleh jadi imam shalat jumat, boleh jadi Nabi. Boleh juga mgkn jadi Paus.
Feminis gelombang ketiga:
Berhubungan seksual dengan siapa saja itu sah-sah saja, karena tubuhku otoritasku, mau berhubungan dengan siapa saja terserah saya.

Kesimpulan  dari  diskusi online kali ini adalah sebagai berikut :
ü Hari kartini bukan merupakan hari feminisme.
ü Emansipasi berbeda dengan feminisme.
ü Perempuan boleh melakukan pekerjaan laki-laki asal tidak keluar dari kodratnya dan tidak menyalahi aturan.
ü Penting bagi perempuan untuk terdidik agar mampu mendidik anak-anaknya kelak.
ü Untuk menghindari hal-hal yang tidak baik, maka perbanyaklah teman yang baik-baik.
ü Perempuan harus dilindungi dan bisa melindungi serta menjaga dirinya sendiri.
ü Feminisme merupakan sebuah ideologi, sehingga kita perlu bekal ilmu yang cukup agar tidak terjerumus pada ideologi tersebut.

Demikian rilis dari diskusi online menyambut Hari Kartini, semoga bisa membuka pengetahuan kita mengenai Kartini, Emansipasi, dan Feminisme. Memaknai Hari Kartini adalah memaknai perjuangannya, sebagai generasi masa depan kita memiliki tanggungjawab untuk melanjutkan perjuangan menjadi perempuan cerdas, terampil, dan terdidik.



Perempuan Punya Peran !
Hidup Perempuan Indonesia !
Hidup Mahasiswa !
Hidup Rakyat Indonesia !


Tidak ada komentar

Silakan Beri Komentar dengan kalimat yang santun